artikel-image

Timbangan Elektronik (Digital)

Timbangan Elektronik: Pengertian, Kelas Menurut OIML R-76, dan Tata Cara Penentuan Kelasnya

 

Pengertian Timbangan Elektronik

Timbangan elektronik adalah alat pengukur massa yang bekerja berdasarkan prinsip konversi sinyal mekanik menjadi sinyal listrik. Timbangan ini menggunakan sensor beban atau load cell yang mengubah gaya berat benda menjadi sinyal listrik yang kemudian diolah oleh sistem elektronik untuk menampilkan hasil pengukuran massa dengan presisi tinggi. Timbangan elektronik digunakan di berbagai industri seperti manufaktur, perdagangan, dan laboratorium, karena keakuratannya dalam pengukuran.

 

Kelas Timbangan Menurut OIML R-76

 

OIML (International Organization of Legal Metrology) R-76 adalah standar internasional yang mengatur persyaratan teknis untuk timbangan non-otomatis, termasuk timbangan elektronik. Standar ini memberikan klasifikasi timbangan berdasarkan ketelitian dan penggunaan dalam berbagai aplikasi. Menurut OIML R-76, timbangan dibagi menjadi empat kelas utama:

 

1. Kelas I: Timbangan Sangat Presisi (Ultra-Precise)

  • Kelas ini digunakan untuk aplikasi yang memerlukan tingkat akurasi yang sangat tinggi, seperti di laboratorium.
  • Resolusi pengukuran sangat kecil dan sensitif terhadap perubahan massa yang sangat ringan.
  • Timbangan ini umumnya digunakan di laboratorium kimia atau farmasi, di mana akurasi yang tinggi sangat penting.

 2. Kelas II: Timbangan Presisi Tinggi (High Precision)

  • Timbangan kelas II juga digunakan di laboratorium, tetapi tidak sepresisi kelas I.
  • Penggunaannya meliputi aplikasi ilmiah, farmasi, dan perdagangan perhiasan.
  • Ini digunakan di mana akurasi tinggi dibutuhkan, tetapi masih dalam batas yang lebih praktis daripada kelas I.

 3. Kelas III: Timbangan Perdagangan (Trade Balances)

  • Timbangan ini digunakan di bidang perdagangan untuk menimbang barang yang dijual berdasarkan berat.
  • Contoh penggunaannya adalah timbangan di toko-toko, pasar, dan industri makanan.
  • Ketepatan cukup untuk keperluan perdagangan, dan ini merupakan kelas yang paling umum digunakan di sektor komersial.

 4. Kelas IIII: Timbangan dengan Ketelitian Kasar (General Purpose/Low Precision)

  • Digunakan untuk aplikasi yang memerlukan akurasi yang lebih rendah, seperti penimbangan barang yang tidak membutuhkan ketelitian tinggi.
  • Timbangan kelas ini sering ditemukan di tempat-tempat seperti gudang atau industri berat, di mana perbedaan kecil dalam berat tidak berpengaruh besar pada proses.

 Tata Cara Penentuan Kelas Timbangan

 

Penentuan kelas timbangan berdasarkan OIML R-76 dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek, termasuk resolusi (e), kapasitas maksimal (Max), dan jumlah divisi timbangan (n). Berikut ini adalah langkah-langkah penentuan kelas timbangan:

 

1. Menentukan Kapasitas Maksimal Timbangan (Max)

  • Kapasitas maksimal adalah berat maksimum yang bisa diukur oleh timbangan. Ini adalah salah satu faktor kunci dalam menentukan kelas timbangan.

 2. Menentukan Skala atau Resolusi (e)

  • Resolusi atau nilai divisi terkecil dari timbangan adalah berat terkecil yang bisa diukur dengan timbangan tersebut. Nilai ini seringkali ditampilkan sebagai "d" atau "e" dalam spesifikasi timbangan.

 3. Menentukan Jumlah Divisi (n)

  • Jumlah divisi timbangan adalah hasil dari kapasitas maksimal dibagi dengan resolusi atau nilai divisi terkecil (n = Max/e).
  • Jumlah divisi ini harus sesuai dengan batas yang ditentukan oleh OIML R-76 untuk setiap kelas timbangan.

 

4. Klasifikasi Berdasarkan Jumlah Divisi

     Menurut OIML R-76, timbangan diklasifikasikan ke dalam kelas tertentu berdasarkan jumlah divisi yang dimiliki:

  • Kelas I: Jumlah divisi (n) lebih dari 50.000.
  • Kelas II: Jumlah divisi antara 100 hingga 100.000.
  • Kelas III: Jumlah divisi antara 100 hingga 10.000.
  • Kelas IIII: Jumlah divisi antara 100 hingga 1.200.

 

5. Verifikasi dan Sertifikasi

  • Setelah menentukan kelas timbangan, alat tersebut harus diuji dan diverifikasi oleh otoritas legal metrologi atau badan terkait untuk memastikan bahwa alat tersebut memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan kelas yang ditetapkan.
  • Verifikasi ini dilakukan melalui serangkaian uji presisi dan akurasi, termasuk uji linearitas, uji beban titik, uji pengulangan, dan lainnya.

 

Contoh Praktis Penentuan Kelas Timbangan

 

Sebagai contoh, sebuah timbangan elektronik memiliki kapasitas maksimal (Max) sebesar 500 kg dengan resolusi (e) 100 g. Maka jumlah divisi timbangan tersebut adalah:

 



Menurut tabel OIML R-76, dengan jumlah divisi sebanyak 5000, timbangan ini masuk ke dalam kelas III yang umum digunakan dalam perdagangan.


Timbangan elektronik memegang peranan penting dalam berbagai sektor karena keakuratannya dalam mengukur berat. Klasifikasi timbangan menurut OIML R-76, yang meliputi kelas I hingga kelas IIII, sangat bergantung pada aplikasi dan kebutuhan akurasi pengguna. Penentuan kelas didasarkan pada kapasitas, resolusi, dan jumlah divisi timbangan, yang harus diuji dan diverifikasi untuk memastikan bahwa timbangan memenuhi standar yang berlaku.